Grace (081291893410),Citra (081398607017), Della (081213451861)
(021)29093808

6 Tips Mudah Memilih Pallet Plastik Berkualitas Untuk Kawasan Industri

6 Tips Mudah Memilih Pallet Plastik Berkualitas Untuk Kawasan Industri – Perusahaan-perusahaan di kawasan industri umumnya memiliki satu kebutuhan yang sama: arus barang yang cepat, rapi, dan bisa diprediksi. Mulai dari bahan baku masuk, proses produksi, hingga pengiriman hasil produksi ke gudang distribusi atau pelanggan, semua bergerak dalam volume besar dan berulang setiap hari. Di titik ini, pallet bukan sekadar “alas angkut”, tetapi bagian penting dari sistem logistik yang menentukan efisiensi kerja.

Namun, memilih pallet tidak bisa asal. Banyak perusahaan mengalami masalah seperti pallet cepat retak, melengkung saat dipakai, tidak cocok dengan forklift, atau tidak aman ketika ditumpuk di gudang. Dampaknya bisa berantai: waktu bongkar muat melambat, risiko kerusakan produk naik, biaya penggantian membengkak, bahkan potensi kecelakaan kerja meningkat. Karena itu, keputusan memilih pallet—terutama untuk skala kawasan industriperlu pendekatan yang lebih terstruktur.

Di tengah kebutuhan volume tinggi, pallet plastik semakin sering dipilih karena stabil, lebih konsisten kualitasnya dibanding pallet kayu, dan cocok untuk sistem logistik modern. Tapi tidak semua pallet plastik itu sama. Artikel ini membahas 6 tips mudah memilih pallet plastik berkualitas yang relevan untuk perusahaan di kawasan industri—dengan fokus penggunaan jumlah besar dan untuk pengiriman hasil produksi.

Kenapa perusahaan kawasan industri banyak beralih ke pallet plastik?

Sebelum masuk ke tips, penting memahami alasan pallet plastik sering jadi opsi utama untuk operasional skala besar:

  • Konsistensi dimensi: penting untuk conveyor, racking, dan sistem gudang yang rapi.
  • Lebih tahan kelembapan & tidak menyerap air: cocok untuk lingkungan pabrik dan pengiriman lintas cuaca.
  • Lebih mudah dibersihkan: penting untuk industri makanan, farmasi, atau manufaktur yang menuntut kebersihan.
  • Lebih minim serpihan/paku: mengurangi risiko kontaminasi dan kerusakan kemasan.
  • Umur pakai bisa panjang: kalau spesifikasi tepat, biaya per siklus pemakaian bisa lebih rendah.

Tetap saja, semua keuntungan ini baru terasa kalau pallet yang dipilih benar-benar sesuai kebutuhan operasional perusahaan.

Tip 1: Tentukan kebutuhan beban secara realistis (Static, Dynamic, dan Racking Load)

Kesalahan paling umum adalah memilih pallet hanya berdasarkan “angka tonase” tanpa memahami jenis beban. Untuk perusahaan kawasan industri, kamu perlu meminta data teknis pallet yang memisahkan:

  1. Static Load (beban diam)
    Beban saat pallet diam di lantai, misalnya stok barang yang disimpan tanpa dipindahkan.
  2. Dynamic Load (beban bergerak)
    Beban saat pallet diangkat atau dipindahkan menggunakan forklift/hand pallet. Ini sering jadi patokan utama untuk operasional pengiriman.
  3. Racking Load (beban di rak)
    Beban saat pallet disimpan di racking (rak gudang). Ini krusial kalau gudangmu memakai selective rack atau drive-in rack.

Praktik terbaik untuk kawasan industri:

  • Hitung berat produk per pallet + berat kemasan + kemungkinan variasi produksi.
  • Tambahkan margin aman (misalnya 15–25%) karena kondisi di lapangan tidak selalu ideal (jalan lantai tidak rata, shock saat forklift mengangkat, dll).
  • Jika memakai racking, jangan kompromi: pilih pallet yang memang racking-rated, bukan sekadar kuat di lantai.

Kalau kamu salah pilih di bagian ini, pallet bisa melengkung, retak, atau jatuh saat penumpukan—risikonya besar, terutama ketika volume pengiriman tinggi.

Tip 2: Pilih tipe pallet sesuai alur kerja (one-way, multi-trip, atau export)

Perusahaan kawasan industri sering punya dua pola utama:

  • Pengiriman ke pelanggan lalu pallet “hilang” (tidak kembali).
  • Pengiriman ke DC internal atau pelanggan tetap yang bisa mengembalikan pallet.

Dari sini kamu bisa pilih kategori:

  • One-way / expendable: lebih ekonomis untuk sekali jalan, cocok jika pallet tidak kembali.
  • Multi-trip / heavy duty: lebih kuat dan tahan lama, cocok untuk sistem return atau sirkulasi internal pabrik–gudang.
  • Export pallet: desain yang sering lebih ringan dan mengikuti kebutuhan pengiriman internasional.

Kuncinya: jangan membeli heavy duty mahal kalau ternyata mayoritas pallet tidak pernah kembali. Sebaliknya, jangan pakai one-way untuk rute internal berulang karena akan cepat rusak dan ujung-ujungnya lebih boros.

Untuk kawasan industri, banyak perusahaan memilih kombinasi:

  • heavy duty untuk operasional internal & racking,
  • one-way untuk pengiriman ke pelanggan yang tidak return.

Tip 3: Perhatikan material dan proses produksinya (bukan cuma “plastik”)

Istilah “pallet plastik” menutupi banyak variasi kualitas. Dua hal yang harus kamu cek:

A) Jenis material

Umumnya pallet plastik memakai HDPE atau PP. Keduanya punya karakter berbeda. Yang penting bukan sekadar jenisnya, tapi kualitas resin, campuran, dan tujuan pemakaian (suhu, beban, benturan).

  • HDPE sering dikenal punya ketahanan benturan yang baik.
  • PP sering dipilih untuk kekakuan tertentu dan ketahanan suhu tertentu (tergantung formulasi).

B) Metode produksi

  • Injection molding: biasanya menghasilkan dimensi presisi dan kekuatan merata (sering dipakai untuk pallet performa tinggi).
  • Blow molding: bisa menghasilkan struktur tertentu yang kuat terhadap benturan.
  • Thermoforming: sering untuk pallet ringan/ekonomis.

Untuk perusahaan kawasan industri yang memakai pallet untuk pengiriman hasil produksi dalam jumlah besar, kualitas konsistensi penting. Tanyakan:

  • apakah pallet virgin atau recycled (atau campuran),
  • apakah ada data uji beban,
  • bagaimana kontrol kualitasnya.

Recycled material tidak selalu buruk, tapi harus jelas standar dan performanya. Untuk produk yang sensitif (makanan/farmasi), biasanya ada persyaratan tambahan.

Tip 4: Pastikan ukuran dan desainnya cocok dengan sistem logistik kamu

Ukuran pallet yang “umum” belum tentu cocok untuk semua pabrik. Pastikan kompatibel dengan:

  • dimensi produk & pola susun (stacking pattern)
  • ukuran kontainer / truk (optimasi ruang muat)
  • conveyor dan jalur otomatis (jika ada)
  • pintu loading dock dan area staging
  • ukuran rak gudang (jika racking)

Selain ukuran, cek juga desain:

  • 2-way atau 4-way entry: apakah forklift bisa masuk dari 2 sisi atau 4 sisi? Untuk flow cepat di pabrik, 4-way biasanya lebih fleksibel.
  • open deck vs closed deck: open deck lebih ringan dan mudah drainase, closed deck lebih stabil untuk kemasan kecil dan lebih mudah dibersihkan.
  • anti-slip surface: membantu stabilitas saat pengiriman, terutama untuk shrink wrap.

Di kawasan industri, waktu adalah biaya. Pallet yang “nyangkut” karena desain tidak cocok bisa menurunkan produktivitas harian secara signifikan.

Tip 5: Cek kebutuhan forklift, hand pallet, dan racking (plus opsi reinforcement)

Pallet berkualitas untuk pengiriman massal harus “ramah alat angkut”. Cek hal-hal ini:

  • Apakah pallet cocok untuk forklift dan hand pallet?
    Beberapa desain terlalu rendah atau terlalu sempit, membuat hand pallet susah masuk.
  • Untuk racking: apakah perlu steel reinforcement (penguat besi) di dalam pallet?
    Jika pallet sering disimpan di rak, penguat bisa membantu mencegah melengkung.
  • Apakah ada runner (kaki panjang) atau block (kaki kotak)?
    Runner sering lebih stabil untuk racking tertentu, sementara block sering cocok untuk manuver 4-way entry.

Tips praktis: minta vendor menunjukkan simulasi atau contoh penggunaan pallet di racking. Jika perlu, lakukan uji coba 1–2 minggu di gudang sebelum pembelian besar.

Tip 6: Hitung biaya total (Total Cost of Ownership), bukan harga per unit

Untuk perusahaan kawasan industri, pembelian pallet biasanya dalam jumlah besar. Kalau kamu hanya membandingkan harga per unit, kamu bisa salah ambil keputusan.

Gunakan pendekatan TCO (Total Cost of Ownership) dengan mempertimbangkan:

  • umur pakai (berapa siklus pengiriman),
  • biaya kerusakan produk akibat pallet gagal,
  • biaya downtime saat loading lambat,
  • biaya penggantian dan maintenance,
  • potensi kehilangan pallet (kalau tidak return),
  • biaya kebersihan atau kebutuhan hygiene.

Contoh sederhana:

  • Pallet A lebih murah 20% tapi umur pakai setengahnya → biaya per siklus jadi lebih mahal.
  • Pallet B lebih mahal tapi mengurangi klaim kerusakan produk → bisa lebih hemat total.

Untuk pengiriman hasil produksi, kerusakan barang di perjalanan sering jauh lebih mahal daripada selisih harga pallet.

Checklist cepat sebelum pembelian dalam jumlah besar

Agar keputusan lebih aman, berikut checklist yang bisa kamu pakai:

  1. Beban: static, dynamic, racking sudah jelas?
  2. Alur: one-way atau multi-trip?
  3. Material & produksi: ada data uji dan konsistensi?
  4. Ukuran: cocok dengan produk, truk/kontainer, gudang?
  5. Handling: cocok forklift/hand pallet, butuh reinforcement?
  6. TCO: sudah dihitung biaya per siklus, bukan per unit?

Kalau 6 poin ini “lulus”, peluang kamu mendapatkan pallet plastik yang benar-benar berkualitas untuk kawasan industri jauh lebih besar. Baca juga Panduan lengkap ukuran pallet plastik.

Penutup

Memilih pallet plastik untuk perusahaan di kawasan industri adalah keputusan operasional yang berdampak langsung ke efisiensi produksi dan pengiriman. Karena digunakan dalam jumlah banyak dan berulang setiap hari, kesalahan kecil bisa berubah menjadi biaya besar: dari kerusakan produk, keterlambatan pengiriman, hingga risiko keselamatan kerja.

Dengan menerapkan 6 tips di atas mulai dari memastikan jenis beban, memilih tipe sesuai alur, memahami material dan proses produksi, memastikan kompatibilitas ukuran dan desain, mengecek kebutuhan forklift/racking, hingga menghitung total biaya perusahaan bisa mendapatkan pallet yang lebih tahan lama, aman, dan menguntungkan dalam jangka panjang.

error: Content is protected !!